Anda Percaya Bentuk Bumi Bulat atau Datar? Ini Dia Faktanya!


Yofakta.com - Informasi berikut ini akan mengulas fakta-fakta untuk Anda yang masih belum yakin apakah bumi itu bulat atau datar.

Teori ‘Flat Earth’ memang sempat menghebohkan netizen beberapa waktu lalu. Teori yang menegaskan bahwa bumi datar seperti piring itu bukanlah hal baru.

Teori ini telah diangkat sejak lama oleh Flat Earth Society, organisasi yang memiliki keyakinan bahwa bentuk bumi sebenarnya datar, bukan bulat.

Teori ini kembali diperbincangkan melalui forum-forum di internet, beberapa video konspirasi bumi datar di Youtube pun menjadi pembicaraan hangat di media sosial.

Bahkan, para pendukung teori Flat Earth menyuguhkan berbagai argumen yang terkesan ilmiah sebagai upaya untuk meyakinkan orang bahwa bentuk Bumi sebenarnya adalah datar.

Bagaimana dengan faktanya? Sebenarnya, Bumi ini bentuknya BULAT atau DATAR ya? Berikut kami sampaikan ulasannya!

Jangan lewatkan: 5 Fakta Menarik Tentang Bumi yang Banyak Orang Salah Mengira

Sejarah Ilmu Pengetahuan Bentuk Bumi dan Posisinya di Alam Semesta


Anda Penganut Teori Bumi Bulat atau Datar? Ini Dia Faktanya!
Sejarah ilmu pengetahuan tentang Bumi dan alam semesta sudah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu, di masa-masa awal peradaban manusia di Bumi.

Kemampuan untuk berimajinasi menjadi salah satu hal yang membedakan manusia dengan spesies lainnya.

Kemampuan imajinasi itu pula yang membuat manusia dapat bertahan hidup dan menjadi spesies paling berkuasa di muka bumi.

Berkat imajinasinya, Manusia dapat membentuk sebuah kelompok, organisasi, peraturan atau hukum yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh spesies lain di bumi.

Di sisi lain, kemampuan imajinasi yang dimiliki manusia jua lah yang kemudian menciptakan mitos-mitos maupun kepercayaan terhadap benda atau fenomena yang ada di dunia ini.

Apa yang orang zaman dahulu pikirkan tentang matahari, bulan, bintang, dan berbagai hal yang terjadi didunia ini tidak sama dengan apa yang ada di pikiran kita saat ini.

Orang zaman dahulu menganggap bumi, bulan, matahari, dan bintang sebagai dewa yang memiliki kemampuan dan kekuasaan jauh di atas manusia.

Tetapi, kembali lagi. Jangan samakan pengetahuan manusia zaman dahulu dengan manusia modern.

Sementara itu, peradaban Babilonia mulai memiliki pengetahuan yang lebih maju tentang perbintangan. Dari susunan bintang, mereka mulai membayangkan suatu bentuk dan menghubungkannya dengan aspek tertentu dari alam atau mitologi mereka.

Meski demikian mereka masih menganggap bintang-bintang memiliki kekuatan magis yang dapat mempengaruhi nasib manusia.

Ilmu perbintangan warisan peradaban Babilonia inilah yang kemudian kita sebut dengan zodiak atau ramalan bintang.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana orang zaman dulu mengambil kesimpulan bukan hanya dari fakta yang mereka lihat, tapi juga banyak disertai dengan imajinasi-imajinasi mereka sendiri.

Walau begitu, sebenarnya imajinasi tidaklah selalu salah. Bahkan, bisa juga benar adanya. Tetapi, imajinasi tersebut juga harus divalidasi kebenarannya.

Beranjak dari Mitologi Menuju ke Rasionalitas


Masa awal peradaban Yunani Kuno, para pemikir sudah mulai berkesimpulan secara rasional. Meskipun belum sempurna, argumen mereka sudah didasarkan pada pengamatan yang mereka lakukan.

Kultur semacam inilah yang kemudian melahirkan tokoh seperti Aristoteles. Meski masih jadi perdebatan di kalangan sejarawan, Aristoteles dianggap sebagai tokoh yang pertama kali mengemukakan pendapat bahwa Bumi itu bulat.

bumi bulat menurut aristoteles
Pada tahun 340 SM, Aristoteles dipercaya sebagai orang pertama yang menulis pendapat tersebut dalam bukunya On The Heavens. Beberapa argumen yang dikemukakannya dalam buku tersebut antara lain:

Pertama, dia menyadari bahwa gerhana bulan disebabkan oleh Bumi yang berada di antara Bulan dan Matahari. Bayangan Bumi pada permukaan Bulan selalu berbentuk bundar.

Hal ini hanya mungkin jika Bumi berbentuk bulat. Apabila Bumi datar, maka bayangannya akan berbentuk lonjong dan hanya bulat apabila posisi Bulan tepat berada di atas ubun-ubun.

Kedua, dari perjalanan yang pernah dilakukan orang-orang Yunani diketahui bahwa Bintang Utara tampak lebih rendah di langit bila pengamat berada lebih ke Selatan (karena Bintang Utara terlihat berada di atas Kutub Utara).

Sedangkan bila pengamat di Kutub Utara, Bintang Utara terlihat berada di atas ubun-ubun, dan bila pengamat ada di Khatulistiwa, Bintang Utara tampak berada di atas horizon. Hal ini hanya mungkin bila Bumi berbentuk bulat.

Ketiga, kapal yang muncul dan tenggelam di horizon (batas terjauh yang bisa teramati dengan mata). Jika ada kapal yang berlayar menjauhi kita, maka badan kapal tersebut akan tenggelam terlebih dahulu di horizon.

Begitu pula sebaliknya, bagian atas kapal akan terlihat lebih dulu di horizon ketika kapal bergerak ke arah pengamat berada.

Dari bukti-bukti tersebut, Aristoteles menyimpulkan bahwa bentuk Bumi adalah bulat. Gagasan Aristoteles tersebut kemudian disepakati oleh para filsuf setelahnya, seperti Eratosthenes, Aristarchus, Euclid, dan Archimedes.

Bahkan, Eratosthenes berhasil mengukur keliling bumi menggunakan tongkat yang diletakkan di dua tempat berbeda. Dia memanfaatkan perbedaan bayangan antara dua tongkat tersebut akibat lengkung bumi untuk mengukur keliling total.

Dengan cara tersebut, Eratosthenes mendapatkan nilai keliling Bumi sebesar 46.250 kilometer. Sedangkan keliling Bumi yang diukur di zaman modern ialah sebesar 40.075 kilometer, hanya meleset sekitar 15% saja.

Tetapi, Aristoteles menduga Bumi tetap berada di tempatnya, dan benda-benda langit beredar mengelilingi bumi. Sayangnya, dia tidak memiliki landasan yang kuat atas argumennya tersebut.

Sejak saat itu, perdebatan mengenai bentuk Bumi sudah jarang terjadi lagi di kalangan filsuf Yunani Kuno.

Pendapat tentang Pusat Alam Semesta (Geosentris vs Heliosentris)


geosentris vs heliosentris
Setelah Aristoteles mengajukan pendapatnya di atas, diskusi tentang bentuk Bumi di kalangan para filsuf bisa dikatakan telah ‘selesai’.

Pertanyaan mulai beralih pada pusat alam semesta. Apakah Bumi sebagai pusat alam semesta (Geosentris) yang di kelilingi oleh matahari, bulan, dan bintang?

Fenomena tersebut coba dijelaskan oleh Claudius Ptolomeus dari Alexandria sekaligus melengkapi model Aristoteles.

Ptolomeus dalam bukunya yang berjudul Almagest, mengajukan model Bumi sebagai pusat tata surya seperti model Aristoteles. Tetapi dengan versi yang lebih kompleks.

Ia memperhitungkan posisi dari matahari, bulan, bintang, dan planet-planet dari Bumi.

Ptolomeus menambahkan sub-orbit melingkar di dalam sebuah orbit (epycicle) untuk menjelaskan pergerakan planet yang meliuk-liuk (retrograde) dalam perputarannya mengelilingi Bumi.

Namun, tetap saja model tersebut masih terlalu rumit dan tidak sepenuhnya akurat.

Sebenarnya, orbit meliuk-liuk (retrograde) tersebut dapat dijelaskan dengan sederhana jika Bumi dan planet-planet lainnya mengelilingi pusat yang sama (matahari).

Dengan asumsi, jarak Bumi dan planet-planet lainnya ke Matahari berbeda-beda sehingga ketika Bumi sudah berevolusi 1 kali, planet yang diamati belum selesai (atau sudah selesai) berevolusi mengelilingi matahari karena jaraknya lebih jauh (atau lebih dekat) dari matahari.

Model semacam inilah yang coba diajukan Nicolaus Copernicus dari Polandia pada abad ke-16 Masehi. Model Matahari sebagai pusat tata surya ini kemudian kita kenal sekarang dengan istilah Heliosentris.

Copernicus berusaha mendobrak pengetahuan (Geosentris) yang telah bertahan selama lebih dari 1800 tahun.

Namun, Copernicus belum berani terang-terangan menyebarkan model yang diajukannya tersebut karena dia sendiri adalah seorang pendeta.

Sedangkan, otoritas Gereja saat itu menganut model Ptolomeus-Aristoteles, yaitu Bumi sebagai pusat alam semesta yang dikelilingi benda-benda langit.

Gagasannya, mulai disebarkan sekitar tahun 1514 dalam sebuah naskah 40 halaman berjudul Commentariolus secara anonim melalui teman-teman dekat Copernicus saja.

Model Copernicus langsung membuktikan diri jauh lebih akurat dibandingkan model Ptolomeus dan segera menyebar di kalangan intelektual Eropa.

Beberapa saat sebelum Copernicus meninggal, pada tahun 1543, Ia berhasil menyelesaikan naskahnya secara lengkap yang diberi judul On The Revolutions of The Heavenly Spheres.

Model Copernicus mendapat dukungan dari Galileo Galilei yang saat itu tengah sibuk mengembangkan teleskop.

Ketika Galileo mengamati benda-benda langit termasuk planet Jupiter, Ia menemukan fakta bahwa Jupiter dikelilingi oleh beberapa satelit.

Galileo pun berpikir, jika Jupiter dikelilingi oleh satelit, maka tidak semua benda langit harus mengelilingi Bumi.

Kemungkinan besar, Bumi sama seperti Jupiter, dikelilingi satelit dan berputar mengelilingi pusat yang sama dengan Jupiter.

Reputasi Galileo semakin dikenal di kalangan ilmuwan pada masa itu karena serentetan penemuan dan pengembangannya pada teleskop.

Akan tetapi, dukungannya terhadap teori Copernicus yang menyatakan bahwa Bumi bukan pusat Tata Surya menyebabkan dirinya ‘bergesekan’ dengan kalangan gereja yang menentangnya. Galileo dituduh ‘heretic’ atau murtad.

Selanjutnya, Galileo dijatuhi hukuman tahanan rumah dan pengucilan sampai dengan akhir hayat. Selain itu dia juga diminta secara terbuka mencabut kembali pendapatnya tentang Bumi yang berputar mengelilingi matahari.

Di masa yang hampir bersamaan, gagasan Copernicus diteliti dan dikembangkan oleh matematikawan asal Jerman, Johannes Keppler.

Dari data yang Kepler dapatkan, ditemukan lagi fakta bahwa pergerakan planet-planet tidak melingkar sempurna mengelilingi Matahari seperti yang dipikirkan Copernicus, tetapi berbentuk elips dengan Matahari berada di salah satu fokusnya.

Hanya saja, Keppler belum bisa menyimpulkan apa yang menyebabkan planet-planet tersebut tetap dalam orbitnya. Dugaan Kepler ialah karena adanya gaya magnetik.

Baru kemudian dijelaskan oleh Isaac Newton bahwa planet-planet tetap dalam orbitnya karena adanya gaya Gravitasi.

Itulah sejarah singkat pengetahuan manusia dalam memahami bentuk dan posisi planet Bumi di alam semesta.

Bermula dari Aristoteles 2300 tahun yang lalu, kemudian Ptolomeus, Coppernicus, Galileo, Keppler, sampai Newton.

Penelusuran bahkan terus berlanjut sampai pada ilmuwan modern seperti Einstein, Sagan, Hawking, dan lain-lain.

Selama ribuan tahun, setiap gagasan mengenai bentuk Bumi dan posisinya sudah mengalami pengembangan dan pengujian berkali-kali baik dengan pendekatan empiris (pengamatan), maupun pendekatan matematika.

Fakta-fakta tentang Bentuk Bumi


Selain fakta-fakta sejarah tentang pengetahuan bentuk Bumi yang telah dikemukakan oleh para filsuf dan ilmuwan di atas, berikut ini kami juga akan menjelaskan beberapa fakta lain tentang Teori Bentuk Bumi:

1. Adanya Perbedaan Zona Waktu di Berbagai Belahan Bumi


Bagi yang suka nonton Liga Champions, mungkin sudah biasa harus bangun dini hari ketika ingin menyaksikan tim kesayangannya berlaga di layar kaca. Hal ini bukan berarti pertandingan sepakbola di Eropa berlangsungnya saat dini hari!

Tetapi,  sebenarnya mereka ini baru tanding sekitar waktu sore hari atau menjelang malam. Kok bisa, di Indonesia sudah dini hari tapi di Eropa masih sore?

Hal ini karena adanya perbedaan zona waktu yang terjadi akibat dari perbedaan cahaya Matahari yang menyinari bagian bumi.

Ini juga menjadi bukti bahwa Bumi berbentuk bulat sehingga cahaya Matahari tidak bisa menyinari semua permukaan bumi secara bersamaan. Mesti bergantian.

Akibatnya, tiap daerah atau negara punya waktu berbeda-beda pada saat yang bersamaan. Perbedaan zona waktu hanya bisa dijelaskan apabila Bumi berbentuk bulat. Sebab, jika bumi datar maka kita masih dapat melihat Matahari meskipun jaraknya sangat jauh.

2. Pengamatan (Citra) Bumi dari Luar Angkasa


Bila ingin melihat foto-foto Bumi dari luar angkasa, Anda bisa melihat citra Bumi dari International Space Station (ISS). Sekarang ini, kita bisa mengaksesnya dengan mudah.

Silahkan cek streaming-nya langsung di sini: http://www.ustream.tv/channel/live-iss-stream. Atau Anda bisa mengikuti postingan foto dan video Bumi dari luar angkasa melalui akun Instagramnya @iss.

Saat ini ISS berada pada ketinggian sekitar 400 kilometer dari permukaan bumi. ISS bahkan tidak bisa merekam gambar Bumi secara utuh dari ketinggian tersebut. Tapi Anda bisa melihat bagian lengkungan Bumi karena bentuknya yang bulat.

Selain itu, terlihat juga foto wilayah negara tertentu dan indahnya video aurora yang tampak dari luar angkasa.

Jangan lewatkan: Fakta Persaingan Satelit di Asia Tenggara – Indonesia di Posisi Teratas

3. Kisah Penjelajahan Manusia Mengelilingi Bumi


Sampai sekarang sudah banyak kisah penjelajahan manusia dalam mengelilingi Bumi. Salah satu kisah yang paling berpengaruh terhadap sejarah dunia ialah penjelajahan Christoper Colombus.

Penjelajahan ini dipicu karena jatuhnya kota Konstantinopel oleh Kesultanan Ottoman sehingga ditutupnya jalur perdagangan dari Eropa ke Asia.

Karena tidak dapat menempuh perjalanan darat, maka perjalanan laut menjadi alternatif para penjelajah Eropa, termasuk Columbus untuk mencapai Asia.

Columbus sendiri percaya bahwa Bumi berbentuk bulat, tapi dalam bayangannya itu bulatnya relatif kecil sehingga mencoba untuk menemukan rute laut paling singkat dari Eropa ke Asia.

Oleh karena itu, dia memutuskan untuk menuju ke Asia melalui Samudera Atlantik karena dia pikir bisa menjadi rute yang lebih dekat.

Colombus akhirnya terus pergi ke arah Barat menyeberangi Samudra Atlantik dan sampai di benua Amerika. Ia mengira sudah tiba di Hindia (Asia) sehingga menyebut penduduk asli daratan tersebut (Amerika) dengan sebutan “Indian”.

Sementara itu, orang pertama yang memimpin ekspedisi untuk mengelilingi Bumi adalah Ferdinand Magellan. Penjelajahan Magellan disebut-sebut sama pentingnya dengan misi pendaratan NASA di Bulan.

Rute ekspedisi tim Magellan mengelilingi Bumi ialah berlayar dari Spanyol mengarah ke Barat hingga tiba kembali di Spanyol.

Bersama 243 kru-nya, Magellan bertekad mengelilingi dunia. Mereka berhasil berlayar menyeberangi Samudra Atlantik, sampai di Amerika, kemudian menyeberangi Samudera Pasifik dan sampai di Filipina.

Tetapi perbekalan yang terbatas, sakit, hingga perang dengan penduduk lokal, menyebabkan banyak awak kapal meninggal dunia. Magellan sendiri meninggal di Filipina.

Awak kapal yang berhasil hidup dan sampai kembali ke Spanyol hanya tersisa 18 orang. Untuk mengenang ekspedisi bersejarah ini, nama Magellan diabadikan dalam 2 nama galaksi tetangga Milkyway (Bimasakti), yaitu Large Magellanic Cloud, dan Small Magellanic Cloud.

Peristiwa lain yang juga berkaitan dengan sejarah Indonesia adalah penjelajahan Spanyol dan Portugis. Dua Negara ini bersaing dan sering berselisih dalam memperebutkan wilayah penjelajahan maupun perdagangan.

Akhirnya pemerintah Spanyol dan Portugis sepakat untuk melakukan Perjanjian Tordesillas. Dimana isi perjanjian tersebut ialah pembagian arah pelayaran.

Spanyol memiliki hak perdagangan dan pelayaran ke arah Barat, sedangkan Portugis ke arah Timur. Mereka harus berlayar saling menjauh agar tidak bersaing satu sama lain. Tetapi tanpa disangka, mereka bertemu di Kepulauan Maluku, padahal mereka belayar saling berlawanan arah.

4. Penggunaan GPS dan Telepon Selular


Isu ini berkembang dari pernyataan para konspirator teori ‘Flat Earth’, bahwasanya GPS dan telepon selular tidak menggunakan satelit. Alat ini dapat saling terhubung hanya dengan bantuan sinyal antar tower saja.

Mereka mengatakan sebenarnya satelit itu tidak ada, dan tidak pernah ada orang yang berhasil menerbangkan roket ke luar angkasa.

Padahal, untuk dapat mengetahui citra lokasi di suatu wilayah yang jauh atau untuk dapat berkomunikasi tanpa sambungan kabel antar negara, sangat tidak mungkin bila hanya mengandalkan tower.

Perlu kita ketahui, Google memiliki lebih dari 180 satelit di luar angkasa. Indonesia sendiri sampai saat ini telah memiliki lebih dari 30-an satelit di luar angkasa.

Jadi, pernyataan bahwasanya tidak pernah ada satelit yang diterbangkan ke luar angkasa sangatlah ‘ngawur’.

5. Ada Ribuan Satelit yang Pernah Diterbangkan Manusia Ke Angkasa


Ribuan Satelit yang Pernah Diterbangkan Manusia Ke Angkasa
Setidaknya ada sekitar 1.381 satelit buatan manusia di angkasa yang mengorbit Bumi. Lantas, mengapa satelit-satelit tersebut jarang sekali terlihat melalui teleskop? Begini penjelasannya!

Satelit LEO (Low Earth Orbit) merupakan satelit yang paling dekat dengan permukaan bumi dan beredar di bumi pada ketinggian 160-2000 km.

Jumlah satelit LEO ada sekitar 500-an, dan luas keliling permukaan bumi adalah 510.072.000 kilometer persegi.

Jadi, setidaknya hanya akan ada 1 satelit di setiap wilayah seluas 1.000.000 km persegi. Apalagi satelit tersebut berada pada ketinggian 160-2.000 km. Tentu tidaklah mudah untuk menemukan satelit menggunakan teleskop.

Tetapi tetap masuk akal dan memang ada beberapa orang yang telah membuktikan dan mengamati satelit menggunakan teleskop.

Ada begitu banyak satelit buatan yang mengorbit Bumi, memang apa sih fungsinya bagi kehidupan manusia?

Tentu saja, satelit buatan memiliki fungsi yang beragam. Ada yang untuk kepentingan navigasi (penerbangan dan pelayaran), geodesi (pemetaan Bumi dan gravitasi), komunikasi (telepon, televisi, dan internet), meteorologi (mengamati atmosfer dan cuaca), penelitian, militer, hingga menyelidiki sumber daya alam.

Baca juga: Fakta Persaingan Satelit di Asia Tenggara – Indonesia di Posisi Teratas

Bila kita mencari gambar Bumi di Google, maka sebagian besar gambar Bumi berbentuk bulat merupakan buatan komputer atau CGI (Computer Generated Imaginary).

Gambar-gambar CGI ini dibuat berdasarkan hasil fotografi satelit. Sekumpulan gambar-gambar yang diperoleh satelit luar angkasa kemudian digabungkan menjadi satu untuk mendapatkan hasil utuh dari bentuk Bumi yang bulat.

Oleh karena bentuknya yang bulat dan ukurannya yang besar itulah maka dibutuhkan beberapa gambar untuk mendapatkan citra bumi secara keseluruhan.

Bila Bumi memang berbentuk datar, seharusnya citra Bumi dapat dilihat secara keseluruhan jika satelit berada di ketinggian yang memungkinkan.

Latar Belakang Munculnya “Teori Bumi Datar” Modern


Modern Flat Earth Society dimulai sejak abad 19. Pencetusnya ialah Samuel Birley Rowbotham. Di tahun 1838, Rowbotham melakukan salah satu percobaan yang diberi nama “Bedford Level Experiment”.

Percobaan ini dilakukan di sebuah sungai di Norfolk, Inggris. Tujuannya adalah untuk membuktikan apakah Bumi benar-benar bulat seperti bola dan untuk menentukan dimana batas jarak lengkungan Bumi (curvature).

Berdasarkan perhitungan para ahli pada saat itu, total keliling Bumi adalah 25.000 mil (40.233,6 km). Seharusnya, dalam jarak 6 mil (9,7 km) sudah terdapat lengkungan (curvature).

Di Sungai Bedford terdapat saluran air yang sangat panjang dan lurus, serta terdapat jembatan di setiap jarak 6 mil.

Jika Bumi benar berbentuk bulat, seharusnya perahu yang berada di salah satu jembatan tidak akan terlihat secara utuh dari jembatan yang lainnya.

Rowbotham mencoba mengamati kapal setinggi 5 kaki menggunakan teleskop setinggi 8 inci yang diletakkan di atas air Sungai Bedford.

Setelah jarak lebih dari 6 mil dilewati kapal tersebut, ternyata kapal masih bisa terlihat dengan jelas dan utuh melalui teleskopnya.

Anda Penganut Teori Bumi Bulat atau Datar? Ini Dia Faktanya!
www.revolvy.com
Menurut Rowbotham jika bumi memang benar berbentuk bulat tidak mungkin kapal tersebut masih dapat terlihat utuh melalui teleskop padahal sudah melewati jarak 6 mil karena sudah berada di balik lengkungan bumi.

Dari percobaanya tersebut, Rowbotham kemudian menerbitkan buku dengan judul “Zetetic Astronomy: Earth Not a Globe” yang menyatakan Bumi merupakan piringan datar dengan pusatnya berada di Kutub Utara dan dibatasi sepanjang tepi selatannya oleh dinding es Antartika.

Buku tersebut juga menyatakan bahwa Matahari dan Bulan berada sekitar 3.000 mil (4800 km) di atas permukaan Bumi.

Salah seorang pendukung fanatik Flat Earth di tahun 1870 bernama John Hampden mengadakan taruhan dengan hadiah uang yang cukup besar bila ada siapa saja yang dapat membuktikan Bumi bulat dan mematahkan hasil Bedford Experiment.

Alfred Russel Wallace yang sekarang ini dikenal sebagai ilmuwan Biologi dan Eksplorer tertarik dengan taruhan tersebut.

Wallace memutuskan untuk ikut taruhan karena tertarik dengan hadiah uangnya sekaligus berharap dapat menghentikan berkembangnya teori Flat Earth yang keliru.

Ternyata terdapat kekeliruan dalam percobaan Rowbotham karena tidak menghitung pembiasan cahaya oleh uap air yang pasti terjadi saat temperatur dalam kondisi tinggi.

Apalagi, percobaan Rowbotham memang dilakukan saat musim panas, maka penguapan pasti terjadi sehingga mengakibatkan adanya pembiasan cahaya (pembelokan cahaya).

Wallace pun memastikan untuk menghindari efek pembiasan cahaya pada permukaan air sungai yang menguap. Ia melakukan percobaan yang sama, tapi pada ketinggian titik pengamatan 4 meter.

Hasil dari percobaan tersebut membuktikan bahwa bagian bawah kapal tidak terlihat akibat adanya lengkungan Bumi.

Artinya, percobaan Rowbotham yang menyatakan Bumi datar dapat terbantahkan. Hal ini diakui oleh juri dan Wallace pun memenangkan taruhan tersebut.

Bahkan di kemudian hari, banyak orang melakukan eksperimen yang sama dan memberikan hasil yang sesuai dengan eksperimen Wallace.

Akan tetapi, meskipun Alfred Russel Wallace dapat membuktikan kekeliruan ‘Flat Earth’, hal tersebut sangat disesalinya karena selama puluhan tahun Ia dan keluarganya terus-menerus mendapat ancaman pembunuhan dan berbagai teror dari John Hampden yang fanatik dan tidak bisa menerima kekalahan.

John Hampden tetap bersikukuh bahwa Bumi berbentuk datar dan mengabaikan putusan juri yang memenangkan Wallace.

Bahkan hingga akhir hayatnya, Hampden terus meneror Wallace. Begitu juga dengan pendukung ‘Flat Earth’ lainnya. Mereka mengabaikan sejarah dan fakta-fakta yang telah membuktikan bahwa Bumi itu bulat.

Penutup


Sampai hari ini, ternyata masih begitu banyak orang percaya dengan teori Bumi datar. Bahkan, seringkali para fanatik ‘Flat Earth’ membenturkan ilmu pengetahuan dan agama untuk meyakinkan orang agar percaya dengan teori mereka.

Penganut Flat Earth fanatik sering menuduh orang lain yang tidak sependapat sebagai ‘korban konspirasi’, atau lebih parah lagi sebagai ‘Kafir’ karena dianggap tidak sesuai dengan ayat-ayat  dalam Kitab Suci yang ditafsirkan dengan versi mereka sendiri.

Tetapi semua kembali pada keyakinan masing-masing. Setiap orang punya hak untuk memilih apakah ingin terus maju bersama ilmu pengetahuan yang telah diuji berkali-kali. Atau memilih mundur kembali pada keyakinan peradaban 2300 tahun yang lalu.

Satu pelajaran berharga bisa kita petik dari apa yang menimpa Wallace.

“Jangan membuang waktumu untuk berdebat dengan fanatik”.
Sumber:
www.kiblat.net
www.zenius.net

Posting Komentar

Copyright © 2019 Yofakta