Jangan Tertipu, Begini Cara Membedakan Info Hoax dan Fakta


Yofakta.com - Pesatnya perkembangan teknologi internet memberikan kita kemudahan akses informasi. Tapi, kita juga harus hati-hati karena tidak semua informasi yang kita peroleh dari website, blog, ataupun media sosial itu 100% benar. Bahkan, tidak sedikit pula yang justru dapat menyesatkan.

Jangan Tertipu, Begini Cara Membedakan Info Hoax dan Fakta
via suarausu.co
Oleh karena itu, kita perlu waspada dan cerdas dalam memilah informasi. Jangan sampai kita malah tertipu pada info-info hoax yang belum tentu jelas kebenarannya.

Cara Membedakan Berita Hoax dan Fakta


Berikut ini kami akan berbagi cara bagaimana membedakan informasi hoax dan fakta supaya kita tidak gampang terperdaya!

1. Jangan Mudah Percaya Judul Provokatif


Judul sensasional yang provokatif seringkali digunakan untuk menyebarkan berita hoax, seperti dengan langsung menuduh atau menyudutkan pihak tertentu.

Isinya bisa saja diambil dari berita media resmi, tetapi sedikit diubah-ubah supaya menggiring persepsi atau opini sesuai yang diinginkan si pembuat hoax.

Nah, kalau Anda menjumpai informasi dengan judul provokatif dan menyudutkan pihak tertentu, jangan langsung percaya! Ada baiknya cari referensi berita serupa dari situs online resmi lainnya.

Selanjutnya bandingkan isinya sehingga Anda sebagai pembaca dapat mengambil kesimpulan yang lebih berimbang dan tidak termakan oleh berita hoax.

2. Cermati Sumber Informasi


Cermati sumber informasi atau alamat URL situs pada informasi tersebut. Jika informasi bersumber dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi atau domain yang digunakan masih gratisan, maka informasi di dalamnya patut diragukan kebenarannya.

Apalagi jika informasi yang diberikan tidak mencantumkan sumber, maka jangan langsung percaya isi dari info tersebut.

Sebagai catatan, menurut Dewan Pers, di Indonesia saat ini terdapat lebih dari 43 ribu situs yang mengklaim sebagai portal berita. Namun dari jumlah tersebut hanya sekitar 300-an saja sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi.

Artinya, di dunia maya masih ada puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu yang perlu kita waspadai.
Kemudian perhatikan dari mana berita tersebut berasal, dan siapa sumbernya. Jika berasal dari institusi pemerintah, perhatikan alamat domain situs. Berikut ini beberapa kategori domain resmi yang ada di Indonesia:
  • .go.id (institusi pemerintah dan sejenisnya)
  • .desa.id (pemerintah desa)
  • .ac.id (akademik, universitas, perguruan tinggi, dan sejenisnya)
  • .co.id (komersial, badan usaha, dan sejenisnya)
  • .net.id (penyedia jasa telekomunikasi yang berlisensi)
  • .web.id (pribadi atau komunitas)
  • .sch.id (sekolah)
  • .mil.id (instansi militer)
  • .or.id (organisasi umum / selain organisasi yang sudah disebutkan di atas)

Selain itu, perhatikan keberimbangan sumber berita. Anda tentu tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh jika hanya terdapat satu sumber berita.

3. Bedakan Fakta dan Opini


Hal berikutnya yang perlu dicermati ialah kita harus dapat membedakan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta atau berdasarkan opini. FAKTA, artinya peristiwa yang terjadi disertai dengan saksi dan bukti. Sedangkan OPINI artinya pendapat dan kesan dari penulis berita yang cenderung bersifat subyektif.

4. Cek Keaslian Foto atau Gambar yang Digunakan


Di zaman sekarang, orang bisa dengan mudah memanipulasi foto maupun video untuk dijadikan sebuah konten. Foto-foto palsu maupun video yang tidak jelas kebenarannya bisa saja disebarkan untuk memprovokasi masyarakat.

Oleh karena itu, jangan mudah percaya dengan gambar maupun video yang tengah viral di internet ataupun sosial media.

Manfaatkan mesin pencari Google untuk mengecek keaslian gambar pada suatu konten dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images.

Selanjutnya, hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang beredar di internet sehingga Anda bisa membandingkan keasliannya.

5. Bertanya di Grup-grup Diskusi Anti-Hoax


Cara berikutnya, kita juga bisa bergabung dengan grup-grup anti-hoax. Sebagai contoh di facebook terdapat beberapa fanpage dan grup diskusi anti hoax seperti Forum Anti Fitnah Hasut dan Hoax (FAFHH), Indonesian Hoax Buster, Indonesia Hoaxes, dan Sekoci.

Di grup-grup tersebut kita bisa ikut bertanya dan berdiskusi tentang kebenaran suatu informasi sekaligus melihat klarifikasi yang sudah disebutkan orang lain. Anda pun juga bisa ikut berkontribusi untuk meluruskan suatu informasi yang tidak benar.

Bagaimana Cara Melaporkan Berita atau Informasi Hoax?


Lantas, bagaimana jika menemukan adanya informasi hoax dan ingin mencegahnya agar tidak tersebar? Kita bisa melaporkan informasi hoax tersebut lewat sarana yang tersedia di masing-masing media.

Misalnya saja di Facebook, kita bisa gunakan fitur Report Status dan mengkategorikan info hoax tersebut sebagai hatespeech, harrasment, rude, threatening, atau kategori lainnya yang sesuai. Apabila banyak netizen yang mengadukan informasi hoax tersebut biasanya Facebook akan menghapusnya.

Sedangkan bila informasi hoax tersebut kita jumpai pada sebuah website atau blog, kita bisa menggunakan fitur feedback pada Google untuk melaporkan situs agar dihapus dari hasil pencarian.

Begitu pula pada Twitter dan Instagram, kita bisa melaporkannya agar konten tersebut tidak tersebar luas dan ‘membodohi’ orang banyak.

Cara lainnya, kita juga dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan mengirimkan email ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Lanjutkan membaca: Masyarakat Papua Ingin Banser Dibubarkan? Cek Faktanya Di Sini!

Demikian cara membedakan informasi hoax dan fakta yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat ya kawan!

Sumber:
kominfo.go.id
www.liputan6.com

Posting Komentar

Copyright © 2019 Yofakta